Pemecatan Xabi Alonso oleh Real Madrid telah mengguncang sepak bola Eropa. Apa yang secara resmi disebut sebagai keputusan bersama kini terlihat sebagai kegagalan struktural yang membuat klub kehilangan kesempatan langka untuk bertransformasi dan membangun masa depan berkelanjutan sesuai standar elite Liga Champions modern.
Kepergian Mendadak yang Menimbulkan Lebih Banyak Pertanyaan
Real Madrid secara resmi mengumumkan bahwa Xabi Alonso meninggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala melalui kesepakatan bersama, dengan Álvaro Arbeloa langsung dipromosikan dari Castilla. Bahasa dalam pernyataan tersebut terdengar tenang dan diplomatis, jelas bertujuan untuk membatasi dampak dan spekulasi. Namun, hanya dalam hitungan jam, laporan-laporan berbeda mulai bermunculan dan menggambarkan situasi internal yang jauh lebih kompleks dan mengkhawatirkan.
Sejumlah sumber menyebut Alonso memilih pergi karena kelelahan menghadapi tekanan konstan dan minimnya dukungan institusional. Sumber lain menyatakan klub kehilangan kepercayaan pada metodenya, dengan alasan hasil yang tidak stabil, ketidakpastian taktik, dan ketegangan dengan pemain kunci. Terlepas dari versi mana yang paling mendekati kenyataan, hasil akhirnya tetap mencoreng citra Real Madrid. Sebuah proyek yang dibangun di atas salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa runtuh sebelum benar-benar diberi waktu untuk berkembang.
Klub yang Belum Siap untuk Perubahan Struktural
Alonso ditunjuk untuk memimpin perubahan filosofis. Ia datang dengan visi jelas yang berfokus pada struktur permainan, otomatisasi, disiplin posisi, dan prinsip pressing modern. Ini bukan perubahan kosmetik, melainkan upaya mendasar untuk membawa Real Madrid lebih dekat dengan model klub-klub yang mendominasi Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir.
Masalahnya bukan pada ide-ide tersebut, melainkan pada lingkungan tempat ide itu diterapkan. Real Madrid telah lama sukses dengan pendekatan yang mengandalkan individualitas, improvisasi, dan otonomi para bintang. Budaya yang dibentuk oleh kesuksesan pelatih seperti Zidane dan Ancelotti ini terbukti resisten terhadap sistem kaku dan algoritme kolektif. Alonso terpaksa berkompromi, dan seiring waktu mulai kehilangan otoritas ketika ia mencoba menyeimbangkan prinsipnya dengan realitas ruang ganti.
Perlawanan Ruang Ganti dan Perebutan Kekuasaan yang Senyap
Menurut berbagai media Spanyol, ketegangan antara Alonso dan skuad sudah muncul sejak ajang Piala Dunia Antarklub. Titik puncaknya disebut terjadi setelah pergantian pemain yang kontroversial terhadap Vinícius Jr. dalam El Clásico, yang memperbesar friksi internal. Sejak saat itu, Alonso semakin menjauh dari ide-ide intinya demi menjaga kendali atas tim.
Sejumlah pemain kunci kesulitan beradaptasi dengan tuntutan sistemnya. Alonso menginginkan struktur pressing agresif, namun Kylian Mbappé tidak bersedia bermain dengan intensitas tersebut. Vinícius, Jude Bellingham, dan Federico Valverde juga tidak mampu—atau tidak mau—menyesuaikan peran mereka untuk menutupi keterbatasan Mbappé. Hasilnya adalah kebuntuan taktis yang membuat Alonso merasa terjebak tanpa solusi nyata.
Tidak Adanya Perlindungan Institusional
Mungkin aspek paling merusak adalah absennya dukungan jelas dari level tertinggi klub. Secara formal Alonso memang pelatih kepala, tetapi ia tidak pernah memiliki otoritas penuh yang dibutuhkan untuk menegakkan perubahan. Sumber internal menyebut Florentino Pérez tidak memberikan pembelaan publik terhadap proyek ini, sehingga tekanan terus meningkat melalui kebocoran informasi, rumor, dan spekulasi soal masa depan Alonso.
Setiap pertandingan berubah menjadi semacam referendum tidak resmi. Hasil imbang atau kekalahan langsung memicu laporan baru tentang kemungkinan pemecatan, menciptakan atmosfer di mana perencanaan jangka panjang menjadi mustahil. Dalam kondisi seperti ini, pelatih berhenti membangun dan mulai bertahan hidup. Alonso pun menjadi kambing hitam yang mudah untuk kontradiksi struktural yang enggan diakui klub.
Hasil Bukanlah Masalah Utama
Dari sudut pandang prestasi, pemecatan ini sulit dibenarkan. Di bawah Alonso, Real Madrid berada di jalur finis delapan besar fase liga Liga Champions—sesuatu yang gagal dicapai klub pada musim terakhir Carlo Ancelotti. Di kompetisi domestik, mereka tetap berada dalam jarak yang relatif dekat dengan Barcelona meski menghadapi masa adaptasi dan ketidakstabilan.
Yang paling penting, Alonso tidak pernah diberi cukup waktu untuk benar-benar sukses atau gagal secara definitif. Proyek ini dihentikan bahkan sebelum setengah musim berlalu, menjadikannya sekadar pertanyaan “bagaimana jika”. Bahkan para kritikus pun harus mengakui bahwa sistem berkelanjutan tidak bisa dibangun hanya dalam hitungan bulan.
Para Pemain Tidak Mengantisipasi Keputusan Ini
Laporan dari Marca menyebut para pemain juga terkejut dengan kepergian Alonso. Mereka mengetahui keputusan tersebut dari pernyataan resmi klub dan tidak mengira akan ada perubahan secepat itu. Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan di ruang ganti disebut mulai stabil, dengan Alonso kembali mendapatkan kepercayaan dan komunikasi yang membaik.
Kylian Mbappé menjadi salah satu yang pertama memberikan respons publik, berterima kasih kepada Alonso atas kepercayaannya dan menggambarkannya sebagai pelatih dengan ide-ide jelas serta pemahaman sepak bola yang mendalam. Pesan ini menegaskan satu hal: bahkan pemain yang paling kesulitan dengan sistem Alonso pun tidak menduga perpisahan ini akan terjadi secara mendadak.
Real Madrid Kembali ke Pola Lama
Dengan Arbeloa mengambil alih, laporan awal mengindikasikan kembalinya pendekatan ala Ancelotti yang lebih longgar, mengutamakan kebebasan pemain dibandingkan ketegasan taktik. Dari sudut pandang institusional, ini terlihat sebagai langkah mundur, bukan kemajuan. Real Madrid memilih kenyamanan dibanding transformasi, tradisi dibanding adaptasi.
Keputusan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah Real Madrid benar-benar ingin menjadi klub modern yang “normal”, dibangun di atas struktur dan proses? Ataukah klub ini merasa cukup dengan aura, bakat elit, dan momen-momen individual, meski sepak bola Eropa terus berevolusi?
Mengapa Ini Penting bagi Lanskap Liga Champions
Keputusan Real Madrid memiliki implikasi jauh melampaui La Liga. Di era ketika kandidat juara Liga Champions semakin ditentukan oleh sistem, kedalaman skuad, dan keselarasan institusional, Madrid justru menolak jalur modernisasi. Pemecatan Alonso menjadi sinyal bahwa bahkan klub terbesar Eropa pun kesulitan menyeimbangkan warisan masa lalu dengan tuntutan kemajuan.
Apakah keputusan ini akan terbukti benar atau salah hanya bisa dijawab oleh waktu. Yang jelas, Real Madrid telah menutup pintu menuju masa depan yang berpotensi lebih selaras dengan tren sepak bola modern. Awan gelap yang menggantung di atas Santiago Bernabéu mungkin tidak bisa disingkirkan hanya dengan atap stadion yang bisa ditutup.
Untuk membaca lebih banyak berita Liga Champions yang relevan bagi pembaca di Indonesia, Anda bisa menemukannya di sini. Sementara itu, untuk melihat hasil pertandingan terkini, klasemen, dan gambaran besar sepak bola Eropa, Anda bisa mengeceknya di sini.


